Profesi bidan beberapa tahun silam adalah profesi yangmenjadi
primadona dunia karir bagi perempuan. Alasannya, bidan masih sedikit, sementara
banyak daerah-daerah terutama daerah terpencil yang sama sekali belum terjamah
akses kesehatan. Setiap tahun, tidak pernah terjeda sedikitpun, pasti pemerintah
mengalokasikan beberap tempat untuk CPNS bidan, bahkan bidan dengan pendidikan
D1 pun diangkat serta merta menjadi CPNS. Semua itu untuk kesejahteraan dan
kesehatan masyarakat kecil.
Seiring bertambah tahun, jaringan informasi dan kemajuan zaman
semakin pesat pertumbuhannya. Karena banyak permintaan profesi bidan, maka
beberapa orang pun mulai memanfaatkan ini sebagai bisnis. Dahulu, sekolah bidan
hanyalah sekolah milik pemerintah dan segelintir akademi kebidanan milik
swasta. Namun mulai tahun 2009an akademi kebidanan (akbid) muncul secara
sporadis di seluruh Indonesia, terutama pulau Jawa, di 1 kabupaten tempat saya
saja ada sekitar 4 akbid swasta dan 1 lagi milik pemerintah. Satu akbid
meluluskan minimal 80 mahasiswi setiap tahunnya, jika dijumlah 1 kabupaten
berarti ada 400an bidan yang lulus setip tahunnya?? Luarrr biasaa.. Di satu
sisi, ini merupakan kabar gembira bagi dunia kesehatan karena meningkatnya
jumlah tenaga kesehatan khususnya bidan, di sisi lain dengan lulusan sebanyak itu
dimana letak pertanggungjawaban dari segi sumber daya manusianya?? Terlalu menjamurnyaa
akbid swasta di indonesia itu sungguh menurut saya berlebihan, entah ada motif
apa dibaliknya, dan siapa yang berkepentingan saya kurang paham.
Sekarang, mencari pekerjaan dengan ijazah d3 kebidanan sangat
susah tidak seperti beberapa tahun silam. Sebenarnya lowongan pekerjaan masih
ada, hanya tidak melimpah. Dan inipun sekarang menjadi bisnis yang menggiurkan.
Mau kerja? Harus punya modal dong buat uang masuk, harus punya orang dalem dong
biar lancar, harus ini harus itu dengan cara yang curang tentunya. Ini tentu
menyulitkan bagi pencari kerja seperti saya yang modalnya hanya dengkul, bahkan
dengan IPK bagus pun sama sekali tidak menjamin.
Mungkin jika tenaga terdidik ini diekspor, hasilnya akan
lain lagi. Setidaknya negara kita tidak hanya dikenal dengan peng ekspor TKI sebagai
pembantu atau buruh, namun juga bisa mengirimkan tenaga medis yang terampil dan
kompeten. Namun kenyataanya yang terjadi adalah, pendidikan bidan di Indonesia
tidak diakui di tingkat Internasional??? Okee pupus sudah harapan para bidan
untuk go International.
Jalan lain lagi dengan meningkatkan segi pendidikan, mungkin
dengan meningkatkan degree dari d3 ke d4 dapat membuktikan bahwa SDM bidan
sekarang tidak lemah, tidak lama hanya 1 tahun pendidikan. Toh dengan d4 kita juga
bisa mengajar di akbid seperti dosen dosen kita dulu, barangkali itu bisa jadi
pekerjaan tetap juga. Namun wacana yang beredar ternyata menyatakan bahwa d4
sudah tidak bisa digunakan untuk mengajar, minimal S2.. Okee, mungkin setelah
d4 nanti saya bisa melanjutkan S2 agar bisa mengajar. Tunggu, S2 pun sekarang
tidak boleh dari d4, harus dari s1.. Ya tuhaaan, s1 kebidanan hanya ada 1 di
Indonesia, di unair Surabaya dan hrus ditempuh 2,5 tahun dengan biaya yang tidak
sedikiit.. lalu kenapa d4 kebidanan masih dibuka di universitas2 negri milik
pemerintah? Untuk apa diselenggarakan jika mata rantainya diputus seperti ini? Sebenarnya
siapa yang membuat aturan-aturan ini? Dan siapa pula yang bertanggung jawab??